Album Review
MUSE's Drones Album Review
Hi! Ketemu lagi, kali ini gue mau review album terbaru Muse, Drones. Sebenarnya album ini rilis 9 Juni lalu, tapi karena gue banyak pikiran, kurang duit, tabungan ga mencukupi (fyi, gue beli lagu/album pake uang sendiri karena gabakal dikasih uangnya juga sama ayah-ibu kalo cuma dipake buat beli album hehehe), jadi baru sempat kebeli awal Juli ini. Drones sebenarnya berisi cerita mengenai err- indoktrinasi oleh pihak opresif, mengubah orang-orang yang mereka rekrut menjadi drones manusia, emotionless- psychotic killing machine.
Matt Bellamy, dalam satu interview majalah
musik (gue gainget kapan, kayaknya Januari kemarin), bilang kalau album Muse
yang baru ini akan kembali pada akar dari genre musik Muse sendiri. Coba
inget-inget lagi seluruh lagu yang ada di album Showbiz sama Origin of
Symmetry, kekeke~ dan mulai dari awal tahun 2015, Muse emang udah mulai gencar
update instavideo (meskipun cuma suara doang, gambarnya gelap) dengan hashtag #musedrones. Hampir semua instavid tadi
memperdengarkan melodi dengan distorsi gitar yang berat, which is album Drones
ini memang familiar dengan distorsi gitar. Dalam Drones ada 12 lagu, the
tracks are:
Album ini dibuka oleh lagu “Dead Inside” yang
warna musiknya lebih condong ke arah synthrock dan sedikit electro, dengan
gebukan drum yang terdengar simple dan minimalis di telinga, juga clunky lyric-nya Bellamy. Lagu ini
menurut gue pas jadi opening album, karena kalo ngomongin musik-musik model gini,
gacukup cuma ngomongin rythm aja, tapi lirik mesti ikutan. “Dead Inside” cocok
jadi opening album karena dari lagu ini dimulai cerita mengenai seorang yang- let’s say whose hope has crashed and burned
in a toxic relationship. “Dead Inside” merupakan cerita pengantar album
ini.
Setelah “Dead Inside”, ada “[Drill Sergeant]”.
Hanya berdurasi sekitar 20 detik, dan memperdengarkan seorang sersan yang
teriak-teriak sama tentara bawahannya, dan magically
disambung dengan track “Psycho”. Kalo dengerin full album pasti ngerti maksud
gue hahaha. “Psycho” ini mulai berasa distorsi gitarnya, cukup heavy, liriknya nampar, dan gue merasa
ini mirip “Uprising” dari album The Resistance. Sedangkan track “Mercy” lebih
terdengar seperti “Starlight” versi upgrade dengan bass serta dentingan piano
yang sama miripnya. Sementara suara gitar dan vocal chants-nya mirip dengan
chorus “Stockholm Syndrome”. Mungkin buat para hardcore fans Muse, lagu ini ga
ngasih sensasi yang besar tapi—lagu ini termasuk easy listening di album Drones. Kalo buat jogging,
enaklah lagunya :D
Track “Reapers” menggeser posisi “Psycho”
untuk urusan distorsi gitar di telinga gue. Knockout
chorus, demonic cries of ‘here come
the drones’, serta frantic finger
tapping-nya membuat gue berpikir kalo ini lagu paling heavy milik Muse sejauh ini. Ending lagunya juga... huft, monumentally riffy breakdown. Lalu ada speech
milik Mantan Presiden John F. Kennedy dalam “[JFK]” yang disambung track “Defector”
yang cenderung rock-ballad, dengan suara gitar solo. Mirip “Kashmir”-nya Led
Zeppelin, dan lirik ‘i am free from your
society’ itu Queen style banget. This
track demands multiple listens, and soon to be a singalong at concert to come.
Sayangnya, di album ini gue agak menyayangkan
perubahan tempo di track “Revolt” khususnya pas bagian chorus. Track ini
menjatuhkan ekspektasi gue, karena lagunya diawali dengan suara sirene polisi
sama angry chanting. Gue pikir rythm-nya
bakal keras, tapi track ini ternyata jadi mirip lagu-lagu U2, dan vocal Bellamy malah mirip Mika. Track “Aftermath” juga gaterlalu outstanding buat kuping gue walaupun liriknya masih clunky dan suara gitarnya terdengar very boyband alike. Gue gatau lagi mikir
apaan pas ngetik paragraf ini-_-
Kemudian gue melek kembali denger track “The
Handler”. Lagu ini menurut gue paling mendekati komposisi musik-musik Muse yang
dulu. Sensasi gitarnya bikin gue mikir seharusnya track ini ada di album Absolution, juga powerful bass dari Wolstenholme. Tapi
dari segi vocal apalagi chorus (duh chorus tuh sumber perhatian, gue fokusnya
di chorus mulu), gue teringat “City of Delusion”. Gue pribadi merekomendasikan
track ini bersamaan dengan “Reapers” dan “Dead Inside” jadi hit singles bhahahaha.
Move on,
“The Globalist” mungkin cocok jadi kesimpulan cerita album Drones. Lagu ini plot-twister
banget, sialan liriknya bikin gue inget Divergent series. Durasinya yang
panjang gabikin bosan karena melodinya sendiri terbagi jadi 3 bagian. Part
pertama, tersisip suara-suara rintik hujan, siulan, dan melodi gitar sederhana,
Ennio Morricone banget, part pertama tadi langsung disambung heavy guitar dan
drumwork yang keras, kinda remind us of
death and destruction, kemudian memasuki menit akhir, melodi menjadi lebih
lembut dengan dentingan piano dan vocal ballad Bellamy. They’re just too daring with their music. Originally durasi lagu ini adalah 10 menit, tapi when you put your earphone on, it feels like
only 5.
Outro album ini gabikin gue jatuh harapan. “Drones” sebenernya sama bagus dengan “The
Globalist”, even better! “Drones” ini
acapella, kalo lirik gamasuk hitungan, lagu ini kedengaran gospel banget. Bellamy’s hum over one another definitely
make this song sounds like the 16th century acapella, dan gue hitung-hitung
di lagu ini kata ‘drones’ diulang- ada kali sampe seratus kali wkwkwk. Naturally, album Drones ini ga terlalu
mencerminkan jawaban Bellamy tentang ‘return-to-roots’-nya
Muse. Tapi di album ini juga bisa kita dengar beberapa eksperimen musik yang
berbeda dari album sebelumnya.
Finally,
selesai gue mengulas lagu-lagu di album Drones.
Oh ya, jangan lupa beli lagu dan album yang asli, ya temen-temen. Itu ngebantu
traffic penjualan album mereka, salah satu cara untuk menghargai karya yang
mereka hasilkan juga. Sekali lagi makasih
sudah baca review gajelas gue hehe. Kapan-kapan main lagi! :)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar